Langsung ke konten utama

Senja di Pagi Itu

Senja pagi tiba
Di pondok tempat tinggalku
Kuberhadap pada pagi yang dingin
Ketika hujan telah redah

Kumenatap rumah-rumah warga
Tak ada satu pun aktifitas kala itu
Lampu-lampu rumah satu persatu mati
Suasana semakin memilukan hati Mengiris jiwaku

Kutatap kembali apa yang ada diatas kepalaku
Burung-burung sibuk terbang dalam berbagai arah
Setidaknya mereka tahu akan kesibukannya
Setidaknya ia mengetahuinya 
Ketika aku memperhatikanya

Tanda akan kegelisahanku semakin nyata
Kuberharap hari itu semuanya telah usai
Aku telah menyecewakan kedua orang tuaku
Sebuah wajah yang begitu kucintai lebih dari diriku

Hari ini kuberharap hujan kembali membasahi pondok
Ketika semalam kuhabiskan waktuku untuk menulis
Bawalah aku ke alam mimpi

Senja di pagi itu
Kutertidur dan kuterbangun kembali.


Makassar, 06.00, 06 Desember 2013

Muh. Aslan Syah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beberapa Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Era Reformasi

BAB II PEMBAHASAN A.     Sejarah Perkembangan Hak Asasi Manusia di Indonesia Sejarah perkembangan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia sudah ada sejak lama. Indonesia adalah negara berdasarkan hukum, hal ini dapat kita lihat dengan tegas di dalam penjelasan UUD NRI tahun 1945. Dalam negara hukum mengandung pengertian setiap warga negara mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum, tidak ada satu pun yang mempunyai kekebalan dan keistimewaan terhadap hukum. Salah satu tujuan hukum adalah untuk menciptakan keadilan di tengah-tengah pergaulan masyarakat, sedangkan keadilan adalah salah satu refleksi dari pelaksanaan hak asasi manusia dan hukum adalah keterkaitan yang erat, karena dalam pelaksanaan hak asasi manusia. Keterkaitan antara hak asasi manusia dan hukum adalah keterkaitan yang erat, karena dalam pelaksanaan hak asasi manusia adalah masuk ke dalam persoalan hukum dan harus diatur melalui ketentuan hukum. Peran Indonesia dalam perjuangan hak asasi int...

Bukit Hijau Yang Sepi

Kuterduduk dalam sebuah kesepian Tak ada suara ku dengar satu pun Hanya sore kemerahan dan segenggam harapan Yang ingin mengantarkanku pada gelapnya malam  Yang kini tiba menghampiriku Kabut tipis-tipis mulai menghitam Pepohonan menari-nari oleh hembusan angin malam Angin membisikkan sebuah cerita ditelingaku Cerita kosong rupanya ku tak tahu apa yang ia katakan padaku Hanya bisikan dan teriakan absurd menggelitik telingaku Udara hangat memeluk tubuh Akhirnya tibalah semua kegelisahan ini Di suatu ketika di bukit hijau yang sepi Apakah engkau juga merasakan itu? Sebuah kegelisahan nyata  yang kupendam.   Mario, 17.30. 06 September 2013 Muh. Aslan Syah

Angin Malam

Angin malam yang dingin Menikam tubuh di gelapnya malam Bunyi nyanyian serangga malam Menandakan adanya tanda kehidupan Angin malam yang dingin Tahukah engkau apa yang kurasakan? Tahaukah engkau apa yang kuresahkan? Tahukan engkau apa yang kuinginkan di hidup ini? Angin malam yang dingin Bintang dan bulan adalah sahabat dekatmu Menemanimu  di saat malam menjelang Tapi, malam ini engkau kesepian Tak ada bulan, dan tak ada pula bintang Hanya engkau dan gelapnya malam Angin malam, engkau telah kesepian Dan akupun kesepian, Tapi, engkau telah menyapa Di saat air mata menetes terjatuh Dengan menikam tubuhku di malam itu, Aku menjadi sahabatmu  dan engkau menjadi sahabatku Wahai angin malam. Mario, 09.56, 23 Juli 2013   Muh. Aslan Syah