Langsung ke konten utama

Senja di Pagi Itu

Senja pagi tiba
Di pondok tempat tinggalku
Kuberhadap pada pagi yang dingin
Ketika hujan telah redah

Kumenatap rumah-rumah warga
Tak ada satu pun aktifitas kala itu
Lampu-lampu rumah satu persatu mati
Suasana semakin memilukan hati Mengiris jiwaku

Kutatap kembali apa yang ada diatas kepalaku
Burung-burung sibuk terbang dalam berbagai arah
Setidaknya mereka tahu akan kesibukannya
Setidaknya ia mengetahuinya 
Ketika aku memperhatikanya

Tanda akan kegelisahanku semakin nyata
Kuberharap hari itu semuanya telah usai
Aku telah menyecewakan kedua orang tuaku
Sebuah wajah yang begitu kucintai lebih dari diriku

Hari ini kuberharap hujan kembali membasahi pondok
Ketika semalam kuhabiskan waktuku untuk menulis
Bawalah aku ke alam mimpi

Senja di pagi itu
Kutertidur dan kuterbangun kembali.


Makassar, 06.00, 06 Desember 2013

Muh. Aslan Syah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Danau Universitas Hasanuddin

Saat itu, kududuk  di bawah sebuah pohon yang besar Di sebuah pinggir tangah danau  Kulihat barbagai macam aktivitas mahasiswa Memandang danau Universitas Hasanuddin Betapa indahnya suasana itu Seseorang memancing Sekelompok orang berdiskusi Seseorang bercinta Aku menatap mereka Kumelihatnya dan melukisnya dalam-dalam Kuteringat Pada suatu ketika dahulu Saat aku menyelesaikan pendidikanku di sekolah menengah atas Kuingin menjadi seorang mahasiswa di tempat ini Tapi, semuanya telah menjadi angan-angan yang telah berlalu Kupikir tugasku saat ini adalah belajar Dan membaca sebanyak mungkin Kuyakin tuhan mengetahui Yang tebaik untukku Maafkan aku, Kuterpesona dan terjatuh dengan keindahanmu Di danau Universitas Hasanuddin. Makassar, 12 Oktober 2013 Muh. Aslan Syah

Angin Malam

Angin malam yang dingin Menikam tubuh di gelapnya malam Bunyi nyanyian serangga malam Menandakan adanya tanda kehidupan Angin malam yang dingin Tahukah engkau apa yang kurasakan? Tahaukah engkau apa yang kuresahkan? Tahukan engkau apa yang kuinginkan di hidup ini? Angin malam yang dingin Bintang dan bulan adalah sahabat dekatmu Menemanimu  di saat malam menjelang Tapi, malam ini engkau kesepian Tak ada bulan, dan tak ada pula bintang Hanya engkau dan gelapnya malam Angin malam, engkau telah kesepian Dan akupun kesepian, Tapi, engkau telah menyapa Di saat air mata menetes terjatuh Dengan menikam tubuhku di malam itu, Aku menjadi sahabatmu  dan engkau menjadi sahabatku Wahai angin malam. Mario, 09.56, 23 Juli 2013   Muh. Aslan Syah  

Ketika Suara Adzan Tiba

Suara adzan telah tiba Ayam berkokok, petanda pagi menghampiri Udara terasa dingin  Menusuk jiwa-jiwa sunyi Ketika itu, aku masih dalam kelelahan panjang Mungkin aku dalam kelaparan Ataukah aku belum menyelesaikan sesuatu Cobalah untuk melawan kelelahan Membersihkan tubuh dengan air wudhu Bersembahyang dan meminta doa kepada Tuhan Selalu saja ketika itu,  Wajah kedua orang tuaku terbayang-bayang Kurindu mereka Kurindu akan suasana kecilku dulu Kuingin kembali. Manuruki, 05.00. 10 Desember 2013 Muh. Aslan Syah