Langsung ke konten utama

Catatan Kecil Untuk Dunia

Dunia tampak begitu berbeda
Dunia telah berubah
Seiring dengan berubahnya masyarakat
Waktu telah menjawab segalanya
Semua kegelisahan dan keresahan ini

Sebuah teka-teki
Absurd dalam ketiadaan dan keberadaanya
Dunia tak berdaya lagi
Kehancurannya dikerenakan oleh ulah manusia
Keserakahan dan kebenciannya kepada bangsa lain
Menumpahkan darah dan air mata
Di bumi yang tak tahu menahu

Berbicaralah dan jangan engkau membisu kepadaku
Kemiskinan yang dilanda oleh bangsaku
Kekuasaan yang diperebutkan
Eksploitasi kekayaan bumi mengakibatkan bencana yang mematikan
Menguntungkan segelintir manusia egois yang tak berperasaan

Apakah semua ini?
Mengapa dunia berubah dan hanya membisu?
Tuhan jawablah segalanya
Sebuah cacatan kecil tentang duniaku.


Makassar, 3.47, 07 Desember 2013

Muh. Aslan Syah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Danau Universitas Hasanuddin

Saat itu, kududuk  di bawah sebuah pohon yang besar Di sebuah pinggir tangah danau  Kulihat barbagai macam aktivitas mahasiswa Memandang danau Universitas Hasanuddin Betapa indahnya suasana itu Seseorang memancing Sekelompok orang berdiskusi Seseorang bercinta Aku menatap mereka Kumelihatnya dan melukisnya dalam-dalam Kuteringat Pada suatu ketika dahulu Saat aku menyelesaikan pendidikanku di sekolah menengah atas Kuingin menjadi seorang mahasiswa di tempat ini Tapi, semuanya telah menjadi angan-angan yang telah berlalu Kupikir tugasku saat ini adalah belajar Dan membaca sebanyak mungkin Kuyakin tuhan mengetahui Yang tebaik untukku Maafkan aku, Kuterpesona dan terjatuh dengan keindahanmu Di danau Universitas Hasanuddin. Makassar, 12 Oktober 2013 Muh. Aslan Syah

Angin Malam

Angin malam yang dingin Menikam tubuh di gelapnya malam Bunyi nyanyian serangga malam Menandakan adanya tanda kehidupan Angin malam yang dingin Tahukah engkau apa yang kurasakan? Tahaukah engkau apa yang kuresahkan? Tahukan engkau apa yang kuinginkan di hidup ini? Angin malam yang dingin Bintang dan bulan adalah sahabat dekatmu Menemanimu  di saat malam menjelang Tapi, malam ini engkau kesepian Tak ada bulan, dan tak ada pula bintang Hanya engkau dan gelapnya malam Angin malam, engkau telah kesepian Dan akupun kesepian, Tapi, engkau telah menyapa Di saat air mata menetes terjatuh Dengan menikam tubuhku di malam itu, Aku menjadi sahabatmu  dan engkau menjadi sahabatku Wahai angin malam. Mario, 09.56, 23 Juli 2013   Muh. Aslan Syah  

Senja di Pagi Itu

Senja pagi tiba Di pondok tempat tinggalku Kuberhadap pada pagi yang dingin Ketika hujan telah redah Kumenatap rumah-rumah warga Tak ada satu pun aktifitas kala itu Lampu-lampu rumah satu persatu mati Suasana semakin memilukan hati Mengiris jiwaku Kutatap kembali apa yang ada diatas kepalaku Burung-burung sibuk terbang dalam berbagai arah Setidaknya mereka tahu akan kesibukannya Setidaknya ia mengetahuinya  Ketika aku memperhatikanya Tanda akan kegelisahanku semakin nyata Kuberharap hari itu semuanya telah usai Aku telah menyecewakan kedua orang tuaku Sebuah wajah yang begitu kucintai lebih dari diriku Hari ini kuberharap hujan kembali membasahi pondok Ketika semalam kuhabiskan waktuku untuk menulis Bawalah aku ke alam mimpi Senja di pagi itu Kutertidur dan kuterbangun kembali. Makassar, 06.00, 06 Desember 2013 Muh. Aslan Syah