Langsung ke konten utama

Pondok Bambu Tua

Matahari elok memancarkan sinarnya
Berhembus angin menggoyangkan padi
Mata bergelinang memandang indahnya siang itu
Udara segar mantari memancarkan sinarnya

Menulis sebuah puisi terindah
Di pondak bambu yang tua
Suara serangga dan suara burung berkicau
Meramaikan dan mewarnai suasana hati

Petani yang sibuk dengan padinya
Berharap akan kehidupannya
Anak dan istrinya menanti dan menanti
Hingga tiba pesta penen

Tanah subur tempat padi tumbuh
Tumbuh dan tumbuh 
Jadilah pemandangan yang elok
  Kutersenyum dan kutersentuh padanya

Bertanya pada diriku
Apakah semuanya akan terus seperti ini?
Dan apakah pondok bambu tua ini akan terus ada di tempat ini?



Mario, 09.13, 25 Juli 2013 

Muh. Aslan Syah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Danau Universitas Hasanuddin

Saat itu, kududuk  di bawah sebuah pohon yang besar Di sebuah pinggir tangah danau  Kulihat barbagai macam aktivitas mahasiswa Memandang danau Universitas Hasanuddin Betapa indahnya suasana itu Seseorang memancing Sekelompok orang berdiskusi Seseorang bercinta Aku menatap mereka Kumelihatnya dan melukisnya dalam-dalam Kuteringat Pada suatu ketika dahulu Saat aku menyelesaikan pendidikanku di sekolah menengah atas Kuingin menjadi seorang mahasiswa di tempat ini Tapi, semuanya telah menjadi angan-angan yang telah berlalu Kupikir tugasku saat ini adalah belajar Dan membaca sebanyak mungkin Kuyakin tuhan mengetahui Yang tebaik untukku Maafkan aku, Kuterpesona dan terjatuh dengan keindahanmu Di danau Universitas Hasanuddin. Makassar, 12 Oktober 2013 Muh. Aslan Syah

Angin Malam

Angin malam yang dingin Menikam tubuh di gelapnya malam Bunyi nyanyian serangga malam Menandakan adanya tanda kehidupan Angin malam yang dingin Tahukah engkau apa yang kurasakan? Tahaukah engkau apa yang kuresahkan? Tahukan engkau apa yang kuinginkan di hidup ini? Angin malam yang dingin Bintang dan bulan adalah sahabat dekatmu Menemanimu  di saat malam menjelang Tapi, malam ini engkau kesepian Tak ada bulan, dan tak ada pula bintang Hanya engkau dan gelapnya malam Angin malam, engkau telah kesepian Dan akupun kesepian, Tapi, engkau telah menyapa Di saat air mata menetes terjatuh Dengan menikam tubuhku di malam itu, Aku menjadi sahabatmu  dan engkau menjadi sahabatku Wahai angin malam. Mario, 09.56, 23 Juli 2013   Muh. Aslan Syah  

Ketika Suara Adzan Tiba

Suara adzan telah tiba Ayam berkokok, petanda pagi menghampiri Udara terasa dingin  Menusuk jiwa-jiwa sunyi Ketika itu, aku masih dalam kelelahan panjang Mungkin aku dalam kelaparan Ataukah aku belum menyelesaikan sesuatu Cobalah untuk melawan kelelahan Membersihkan tubuh dengan air wudhu Bersembahyang dan meminta doa kepada Tuhan Selalu saja ketika itu,  Wajah kedua orang tuaku terbayang-bayang Kurindu mereka Kurindu akan suasana kecilku dulu Kuingin kembali. Manuruki, 05.00. 10 Desember 2013 Muh. Aslan Syah