Langsung ke konten utama

Postingan

Puisi Tentang Cinta

Akhirnya tiba suatu ketika Langit terasa hitam tak berbintang Udara dingin menikam tubuhku Rintihan hujan jatuh membasahi bumi  Ia bagaikan bernyanyi untukku dan untukmu  Apakah engkau masih seperti dahulu Ketika itu kita masih bersama Mengenang sebuah cerita indah  pahit tentangmu dan tentangku Apakah engkau masih selembut dahulu  Ketika kita bermain bersama Di sebuah taman-taman sekolah kita dahulu Hujan pun membasahi kita  dalam sebuah perjalanan ini Tapi, engkau telah melupakan semuanya Hanya seuntai cerita yang ku ukir dalam puisi ini Yaitu puisi tentang cinta. Mario, 3 September 2013 Muh. Aslan Syah

Pondok Bambu Tua

Matahari elok memancarkan sinarnya Berhembus angin menggoyangkan padi Mata bergelinang memandang indahnya siang itu Udara segar mantari memancarkan sinarnya Menulis sebuah puisi terindah Di pondak bambu yang tua Suara serangga dan suara burung berkicau Meramaikan dan mewarnai suasana hati Petani yang sibuk dengan padinya Berharap akan kehidupannya Anak dan istrinya menanti dan menanti Hingga tiba pesta penen Tanah subur tempat padi tumbuh Tumbuh dan tumbuh  Jadilah pemandangan yang elok   Kutersenyum dan kutersentuh padanya Bertanya pada diriku Apakah semuanya akan terus seperti ini? Dan apakah pondok bambu tua ini akan terus ada di tempat ini? Mario, 09.13, 25 Juli 2013   Muh. Aslan Syah

Kertas-kertas Yang Berbicara

Sungguh aku tak tahu apa yang mereka pikirkan Orang-orang telah mengasingkan Orang-orang telah melupakan Bagaikan sampah di mata mereka Saat ini engkau telah kesepian Hanya debu-debu yang menempel ditubuhmu Rayap-rayap bernyayi Memangsa dan melukai Wahai kertas-kertas yang berbicara Berbicaralah pada mereka yang telah melupa Berbicaralah bagaikan nyanyian serangga di malam hari. Mario, 09.13, 25 Juli 2013 Muh. Aslan Syah

Keresahan Jiwa

Duduk dalam sebuah penantian Di sebuah tempat yang sepi Meja yang miring menemani dalam mengukir penantian ini Kumenanti engkau untuk menemaniku berdiskusi Keresahan jiwa yang kurasakan saat ini Kulampiskan dalam kesepian Apakah engkau mengerti apa yang kurasakan? Kuingin engkau semua tahu Kuingin berbagi pengetahuan dan pengalaman hidupku dan hidupmu Sejam telah berlalu Sebuah buku yang kugenggam erat-erat Serangga pun bernyayi dan berbisik Seolah menangis dan tertawa, perih dan luka Langit terasa mendung tak bercahaya Aku  pergi dengan keresahan jiwa. Soppeng, 17.00, 14 September 2013   SMA Negeri 1 Marioriawa Muh. Aslan Syah

Kebijaksanaan Seekor Elang

Kuingin seperti elang Yang terbang dengan kearifannya Menjelajahi bumi dan menantang derasnya angin Dikala panasnya terik matahari dan dinginnya embun pagi Seperti  elang Yang tak sombong dengan kelebihannya Bukanlah pembunuh dan pemangsa semut kecil Tapi, penantang tikus-tikus dan ular berbisa Terbanglah wahai elang Tanda akan kebijaksanaanmu dan keindahanmu Dunia pun tersenyum melihatmu Hingga aku akan bertanya pada diri ini Bisakah aku sepertimu? Mungkin engkau yang mengetahui Tidakkah aku yang lemah ini Terbanglah Lawanlah ketakutanmu. Mario, 04. 30, 19 Agustus 2013   Muh. Aslan Syah

Guru Intelektual

Rasulullah Muhammad S.A.W, Seokarno, Mohammad Hatta, Sjarir, Tan Malaka, Aidit, Nyato, Ali Shariati, Asghar Ali Angineer, Hasan Hanafi, Arkoun, Abu Hasan Al-Asy’ari, Abu Mansur Al-Maturidi, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Hambali, Imam Junaidi, Imam Ghozali, Hadratus Syaikh Kiai K.H Hasyim Asy’ Ari, Muhammad Bagir Ash-Shadar, Murtadha Muthahhari, Jaluluddin Rakhmat, Nurcholisc Madjid, J Sudarminta, Muhammad Al-Tijani Al-Samawi, Amin Rais, Eko Prasetyo, Eko P. Dharmawan, H. Mundiri, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Andrea Hirata, Abdul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi, Hamid Algar, Muhammaaad Iqbal, Amsal Bakhtiar. Sokrates, Plato, Aristoteles, Nicholas Copernicus, Johannes Keppler, Galileo Galilei, Niccolo Machiavelli, Thomas More, Francis Bacon, Rene Descartes, Blaise Pascal, Baruch De Spinoza, Thomas Hobbes, John Lucke, G.W. Leibniz, Christian Wolff, George Berkeley, David Hume, Voltaire, Jean Jacques Rousseau, Immanual Kant, J.C Fichte, F.W.J Schelling, Arthur Schopenhauer, Augu...

Bukit Hijau Yang Sepi

Kuterduduk dalam sebuah kesepian Tak ada suara ku dengar satu pun Hanya sore kemerahan dan segenggam harapan Yang ingin mengantarkanku pada gelapnya malam  Yang kini tiba menghampiriku Kabut tipis-tipis mulai menghitam Pepohonan menari-nari oleh hembusan angin malam Angin membisikkan sebuah cerita ditelingaku Cerita kosong rupanya ku tak tahu apa yang ia katakan padaku Hanya bisikan dan teriakan absurd menggelitik telingaku Udara hangat memeluk tubuh Akhirnya tibalah semua kegelisahan ini Di suatu ketika di bukit hijau yang sepi Apakah engkau juga merasakan itu? Sebuah kegelisahan nyata  yang kupendam.   Mario, 17.30. 06 September 2013 Muh. Aslan Syah